Mengenal Sang Maha Guru
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal dengan nama pena Buya Hamka, bukanlah sekadar nama yang terukir dalam sejarah kepahlawanan Indonesia. Ia adalah lautan ilmu yang kedalamannya tak terduga, sebuah cermin peradaban yang memantulkan cahaya Islam yang dinamis dan progresif. Lahir di tengah keluarga ulama pembaharu Minangkabau pada 17 Februari 1908, Hamka tumbuh menjadi sosok yang khas: seorang otodidak yang menguasai berbagai disiplin ilmu, dari filsafat hingga sosiologi, dari sastra hingga politik, baik dari dunia Islam maupun Barat . Gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Al-Azhar dan Universitas Kebangsaan Malaysia bukanlah pemberian semata, melainkan pengakuan atas keluasan wawasan dan kedalaman kontribusinya bagi peradaban Islam di Nusantara .
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang sarat dengan disrupsi, pertanyaan mendasar muncul: apakah warisan pemikiran Buya Hamka masih relevan bagi generasi muda, khususnya kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang mengemban amanah di Komisariat Buya Hamka? Jawabannya bukan hanya “ya”, melainkan sebuah seruan untuk menelusuri jejak langkahnya, bukan sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai resep hidup untuk masa depan.
Mengenal Warisan Sang Pencari Kebenaran
Buya Hamka adalah simbol dari apa yang disebut oleh IMM sebagai “Cendekiawan Berpribadi” . Istilah ini bukan sekadar slogan; ia adalah identitas khas yang membedakan gerakan mahasiswa ini dari yang lain. Seorang cendekiawan berpribadi tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan ketakwaan yang kokoh kepada Tuhan . Inilah esensi dari konsep pendidikan yang diajarkan Hamka: perpaduan harmonis antara ilmu dan iman.
Dalam bukunya, Falsafah Hidup, Hamka dengan tegas menyatakan bahwa ilmu pengetahuan tanpa agama akan menjadi buta, dan agama tanpa ilmu akan menjadi lumpuh. Baginya, keduanya adalah satu kesatuan yang saling menguatkan dalam menuntun manusia menuju kebenaran mutlak . Pemikiran ini sangat relevan bagi kader IMM yang hidup di era digital. Di satu sisi, kita dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Namun di sisi lain, kita juga harus memiliki filter moral yang kuat agar tidak terjerumus ke dalam hedonisme dan sekularisme yang merusak. Bagi Buya Hamka, akal adalah anugerah istimewa untuk mencari ilmu, dan ilmu itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya .
Pimpinan Komisariat Buya Hamka, sebagai salah satu basis kaderisasi di lingkungan Universitas, tidak bisa lepas dari tanggung jawab untuk meneladani jejak ini. Tiga nalar utama yang disebutkan dalam kerangka berpikir Prof. Amin Abdullah, yaitu nalar teologis (fondasi spiritual), nalar filosofis-keilmuan (visi intelektual), dan nalar etis (prinsip moral), adalah cerminan dari kepribadian Buya Hamka itu sendiri . Ia adalah ulama yang tak pernah berhenti belajar, sastrawan yang kritis, dan politisi yang berpegang teguh pada prinsip, sebagaimana tergambar dalam sikapnya saat menolak untuk menarik fatwa MUI demi kepentingan politik praktis .
Jejak Sang Pengelana: Belajar dari Perjalanan Hidup
Perjalanan hidup Buya Hamka adalah laboratorium kehidupan bagi kader IMM. Di usia 16 tahun, ia merantau ke Yogyakarta—berguru pada tokoh-tokoh besar seperti H.O.S. Tjokroaminoto dan Ki Bagus Hadikusumo—dan mulai mengenal perbandingan antara gerakan politik Islam dan gerakan sosial Muhammadiyah . Perjalanan ini mengajarkan bahwa seorang intelektual harus berani keluar dari zona nyaman, membuka wawasan, dan membandingkan berbagai pemikiran untuk menemukan sintesis yang tepat.
Kemudian, pengalamannya di Makassar pada 1932 menjadi titik balik penting. Dikirim untuk membangkitkan semangat rakyat dan mempersiapkan Kongres Muhammadiyah ke-21, Hamka muda tidak hanya berhasil, tetapi juga mendirikan sekolah-sekolah dan media massa . Di sini, ia menunjukkan bahwa dakwah dan pendidikan adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Semangat inilah yang harus dihidupkan oleh kader Komisariat Buya Hamka. Kehadiran komisariat ini di kampus bukan sekadar menjadi organisasi yang bergerak untuk internal, tetapi harus menjadi lokomotif perubahan sosial.
Tantangan yang dihadapi Hamka pun bukanlah hal sepele. Ia harus berhadapan dengan kritik pedas dari partai politik seperti PSI yang menuduh Muhammadiyah “kooperatif” dengan Belanda. Namun, Hamka tidak diam. Melalui media Tentara Islam, ia membalas kritik dengan karya nyata, menunjukkan bahwa Muhammadiyah lebih banyak berbuat daripada sekadar berkoar . Sikap ini adalah bentuk dari “intelektual organik” yang digambarkan oleh Antonio Gramsci, yaitu kaum intelektual yang menggunakan ilmunya untuk memecahkan masalah sosial, bukan hanya tinggal di menara gading . Kader IMM dituntut untuk menjadi seperti itu: tidak hanya pintar di kelas, tetapi juga turun ke lapangan dan ikut menyelesaikan persoalan bangsa.
Mengimplementasikan Warisan: Riset dan Aksi
Penelitian terdahulu seringkali mengkaji pemikiran Hamka dari sisi historis atau sastra semata. Namun, bagi kader IMM, penting untuk membawanya ke ranah yang lebih aplikatif dan berbasis riset. Karya-karya Hamka seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah bukan hanya novel roman, tetapi adalah kritik sosial yang tajam terhadap adat yang kaku dan ketidakadilan sosial . Di sinilah tugas kita sebagai kader Komisariat Buya Hamka untuk melakukan riset atas realitas sosial kontemporer.
Apa yang bisa kita riset? Pertama, relevansi konsep “cendekiawan berpribadi” di era disrupsi. Bagaimana generasi muda memaknai ulang identitas keislaman mereka di tengah gempuran budaya populer dan radikalisme? Kedua, pemikiran Hamka tentang pendidikan karakter . Di tengah maraknya kasus amoralitas di kalangan pelajar dan mahasiswa, bagaimana nilai-nilai seperti kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab yang diajarkan Hamka bisa diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan? Ketiga, transformasi sosial. Dengan mengambil inspirasi dari perjuangan Hamka di Makassar, bagaimana kader IMM bisa menggunakan teknologi digital untuk melakukan dakwah dan pemberdayaan masyarakat yang lebih efektif?
Dengan melakukan riset-riset semacam ini, kita tidak hanya menelusuri jejak Buya Hamka, tetapi juga memperbaharui warisannya. Kita mengikuti jejaknya sebagai seorang pencari ilmu (otoritas keilmuan), sekaligus sebagai seorang pejuang (otoritas moral). Sebagaimana Hamka menggunakan pena dan lisan untuk mencerahkan umat, kader IMM di era modern harus menggunakan riset dan inovasi untuk memecahkan masalah kebangsaan.
Bukan Sekadar Nama, Melainkan Manifestasi
Nama “Buya Hamka” yang disematkan pada sebuah komisariat di UMP bukanlah sekadar label. Itu adalah sebuah amanat. Amanat untuk menjadi generasi yang mencintai ilmu, memiliki integritas tinggi, dan berani melakukan perubahan. Melalui refleksi ini, kita diajak untuk tidak hanya membaca sejarah, tetapi juga menulis sejarah baru dengan semangat yang sama: menggabungkan akal dan agama, berani merantau untuk menimba ilmu, dan berani berjuang di tengah arus zaman.
Warisan Buya Hamka adalah peta jalan. Kini, tugas kader IMM Komisariat Buya Hamka adalah melangkah di atasnya, atau bahkan membuka jalan baru yang lebih terang bagi generasi mendatang. Karena sejatinya, menjadi cendekiawan berpribadi adalah menjadi penerang di tengah kegelapan, menjadi penyejuk di tengah kekacauan, dan menjadi bukti bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam bish-shawab.
Daftar Rujukan
- PWM Jateng. (2026, April 20). Cendekiawan Berpribadi: Bukan Sekadar Pintar, Ini Identitas Khas IMM. Muhammadiyah Jateng.
- Suara Muhammadiyah. (2018, Maret 14). Cendekiawan Berpribadi (Refleksi Milad IMM). Suara Muhammadiyah.
- Muhammadiyah.or.id. (2021, Desember 17). IMM Harus Jadi Pelopor Gerakan Dakwah Mahasiswa. Muhammadiyah.
- UAD. (2025, Februari 14). Buya Hamka dan Muhammadiyah: Jejak Perjuangan Seorang Ulama Besar. Universitas Ahmad Dahlan.
- Tribun-timur. (2015, Agustus 7). Muktamar Muhammadiyah 1932: Jejak Buya Hamka di Makassar. Tribunnews.com.
- Suara Aisyiyah. (2023, November 9). Buya Hamka, Mufasir Muhammadiyah yang Jadi Pahlawan Nasional. Suara Aisyiyah.
- UIN Antasari. (2020). Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Perspektif Pemikiran Buya Hamka. Skripsi/UIN Antasari.