Di tengah dinamika organisasi yang seharusnya menjadi ruang pengabdian dan pembelajaran kepemimpinan, tidak jarang muncul fenomena yang memprihatinkan: jabatan diperlakukan sebagai tujuan akhir perjuangan. Akibatnya, nilai-nilai yang selama ini dijunjung tinggi perlahan terkikis oleh ambisi dan kepentingan sesaat.
Kepemimpinan tidak pernah lahir dari hasrat untuk berkuasa, melainkan dari kesediaan untuk memikul tanggung jawab. Dalam perspektif kepemimpinan, integritas dan tanggung jawab merupakan fondasi utama seorang pemimpin. Imam Machali (2023) menegaskan bahwa profesionalitas pemimpin ditandai oleh integritas, tanggung jawab, dan kemampuan mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Ketika jabatan justru dijadikan alat untuk memenuhi ambisi individu, maka yang mengalami kemunduran bukan hanya kualitas kepemimpinan, tetapi juga moral organisasi itu sendiri
Dalam ruang-ruang diskusi, kader berbicara tentang integritas. Dalam forum-forum kaderisasi, mereka diajarkan tentang etika perjuangan. Dalam berbagai pidato, nilai-nilai keikhlasan dan pengabdian terus dikumandangkan. Namun ketika jabatan mulai terlihat di depan mata, sebagian orang mendadak lupa pada seluruh pelajaran yang pernah mereka dengar dan sampaikan.
Di titik inilah organisasi mulai kehilangan ruhnya.
Seseorang mungkin mampu memenangkan suara, tetapi belum tentu memenangkan kepercayaan. Seseorang mungkin berhasil memperoleh jabatan, tetapi belum tentu memperoleh kehormatan. Sebab kehormatan tidak lahir dari kemenangan dalam kontestasi, melainkan dari cara seseorang memperlakukan nilai-nilai yang ia perjuangkan.
Sayangnya, zaman ini sering kali mengajarkan bahwa hasil lebih penting daripada proses. Demi sebuah kursi, hubungan persaudaraan menjadi renggang. Demi sebuah posisi, idealisme menjadi barang yang mudah ditawar. Demi sebuah jabatan, kebenaran sering kali disesuaikan dengan kepentingan. Padahal sejatinya jabatan seharusnya dipahami sebagai amanah yang dijalankan dengan integritas dan tanggung jawab moral. Kepemimpinan yang baik tidak hanya berorientasi pada pencapaian tujuan organisasi, tetapi juga harus mencerminkan nilai-nilai etika dalam setiap tindakan pemimpinnya (Herawati, 2024).
Yang lebih menyedihkan, semua itu kerap dibungkus dengan narasi perjuangan.
Ketika ambisi kekuasaan lebih dominan dibandingkan komitmen terhadap nilai organisasi, maka proses regenerasi kehilangan esensinya sebagai ruang pembentukan karakter kepemimpinan. Penelitian menunjukkan bahwa pembentukan karakter kepemimpinan dalam organisasi mahasiswa dipengaruhi oleh nilai-nilai organisasi, pengalaman praktik kepemimpinan, dan proses internal organisasi itu sendiri (Suwandi, Sasmita, & Prastini, 2025).
Padahal sejarah selalu menunjukkan bahwa organisasi tidak pernah runtuh karena perbedaan pendapat. Organisasi runtuh ketika nilai-nilai yang menjadi fondasinya kehilangan makna. Ketika kejujuran dianggap kelemahan, ketika ketulusan dianggap ketidakmampuan, dan ketika jabatan dianggap tujuan akhir perjuangan, maka saat itulah kehancuran sedang dipersiapkan secara perlahan.
Masalahnya, marwah adalah sesuatu yang mudah hilang tetapi sulit dipulihkan. Puluhan tahun kaderisasi dapat rusak oleh satu periode kepemimpinan yang dipenuhi ambisi. Bertahun-tahun membangun kepercayaan dapat runtuh hanya karena segelintir orang menjadikan organisasi sebagai kendaraan menuju kepentingan pribadi.
Kepercayaan merupakan modal sosial yang menjadi fondasi keberlangsungan sebuah organisasi. Ketika kepercayaan melemah, maka solidaritas dan legitimasi organisasi juga akan mengalami kemunduran (Hasbullah, 2006). Oleh karena itu, setiap tindakan yang mengorbankan integritas demi kepentingan kekuasaan sesungguhnya tidak hanya merusak hubungan antarkader, tetapi juga menggerus fondasi moral yang menopang keberlangsungan organisasi itu sendiri.
Mungkin yang perlu direnungkan bukanlah siapa yang paling layak menduduki kursi kepemimpinan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kursi itu masih dipandang sebagai amanah, atau sudah berubah menjadi tujuan perjuangan?
Sebab ketika jabatan lebih dicintai daripada nilai-nilai yang melahirkannya, sesungguhnya yang kalah bukanlah kandidat tertentu, bukan pula kelompok tertentu. Yang kalah adalah organisasi itu sendiri.
Dan ketika marwah telah tergadai demi kursi kekuasaan, kemenangan sebesar apa pun tidak akan pernah mampu menutupi kekalahan moral yang ditinggalkan.
Referensi
Herawati, H. (2024). Kepemimpinan Berbasis Etika: Sebuah Kajian Teoritis. Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi, 1(3), 36–42. https://doi.org/10.69714/k8djc194
Suwandi, R. D., Sasmita, S. K., & Prastini, E. (2025). Pembentukan Karakter Kepemimpinan pada Organisasi Mahasiswa (Studi Deskriptif pada PMII Komisariat Unpam). Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan (JUPANK), 5(1). https://doi.org/10.36085/jupank.v5i1.8106
Hasbullah. (2006). Social Capital (Menuju Keunggulan Budaya Manusia Indonesia). Jakarta: MR-United Press.
Machali, I. (2023). Becoming Leader: 101 Leadership Quotes, Teori, Prinsip, dan Filosofi Kepemimpinan. Yogyakarta: K-Media